Software SMS Quickcount : Solusi mempercepat hasil pilkada

August 5, 2008 - Leave a Response

Satu tahun yang lalu, beberapa tim dari deft technology diminta membuat sistem untuk keperluan quickcount hasil PILKADA DKI Jakarta oleh PUSKAPOL (Pusat Kajian Politik UI). Itulah awal interaksi kami dengan yang namanya ‘quickcount’. Untuk melaksanakan pekerjaan ini, hanya dibutuhkan teknologi sms dan software untuk sms server yang siap untuk menerima data sms dari relawan.

Lalu kendala apa sajakah yang dihadapi pada saat pelaksanaan quickcount? Hampir tidak ada kendala dari sisi teknologi karena teknologi sms sudah mature dikenal oleh sebagian besar orang. Yang menjadi masalah adalah faktor manusia. Bagaimana lembaga survei mengedukasi semua relawannya untuk melakukan sms dengan format yang sudah ditentukan dengan tidak ada kesalahan sedikitpun. Ujicoba sekali tidaklah cukup bagi kami waktu itu, untuk itulah ujicoba dilakukan berkali-kali untuk memastikan bahwa tingkat error dari relawan sangat sedikit sekali sehingga tidak merepotkan nantinya pada saat hari pelaksanaan quickcount.

IT dalam hal ini software quickcount telah terbukti memberikan keunggulan kompetitif bagi penggunanya. Akibat hadirnya software quickcount ini, setidaknya tidak lagi dibutuhkan waktu banyak untuk mengetahui hasil pemilu/pilkada. Bahkan hasil dari quickcount malah lebih dipercaya daripada hasil dari KPUD.

Cerita tentang Politisi dan “Blog”

July 3, 2008 - Leave a Response
kompas, Kamis, 3 Juli 2008

PEPIH NUGRAHA

Senator Barack Obama, kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, tahu betul memanfaatkan kekuatan situs atau blog pribadi untuk meraih simpati sekaligus kemenangan. Pada konvensi partai, Obama menyingkirkan saingan terkuatnya, Hillary Rodham Clinton, dengan orasi kampanyenya yang mengena.

Di luar kemampuannya memikat calon pemilih yang amat rasional di dunia nyata, Obama juga unggul di dunia maya. Ia pandai memanfaatkan kekuatan media online. Terlepas bahwa orang lain yang menggarap perwajahan dan isi situs pribadinya, Obama tidak harus malu menyatakan diri sebagai blogger yang mengelola dan memelihara situs pribadinya secara rutin.

Tengok situs www.barackobama.com atau www.my.barack- obama.com yang selalu di-update. Kedua situs itu tidak semata-mata meminta dana dari para simpatisannya, tetapi juga menawarkan berbagai produk ”Barack Obama”. Tidak kurang dari 400 produk ditawarkan, mulai dari kaus T-shirt, topi, pin, kancing, payung, jaket, cangkir, sampai stiker. Lebih progresif, Obama memiliki armada pengiriman barang agar lekas sampai kepada pemesan.

Selain mengundang para blogger membuat testimoni, Obama juga menarik pemilih His- panik dengan membuat situs versi bahasa Spanyol. Ini yang paling mencengangkan: Obama memiliki kanal untuk me- nyambut pemilih Hillary Clinton!

Di kanal bertajuk ”Welcome Hillary Supporters” yang dilengkapi foto Hillary itu, Obama menyilakan pendukung Hillary segera beralih mendukungnya. Alasannya sederhana, setelah Hillary kalah dalam konvensi, para pendukung Hillary pun merupakan orang-orang Demokrat yang amat diperlukan saat pemilihan presiden melawan kandidat Partai Republik, John McCain.

Jelaslah, Obama tidak menganggap Hillary dan para pendukungnya sebagai ”pengkhianat” yang harus dijauhi hanya karena tidak memilihnya. Lewat situs pribadinya, Obama mengajak mereka memperkuat dan memenangkan Demokrat dalam pemilihan presiden dengan cara memilihnya.

Dari situs pribadinya pula, para netter simpatisan Obama bisa mengetahui di mana Obama berada di dunia maya. Jejak Obama yang memanfaatkan ”ruang maya” tersebut bisa ditemui di sejumlah situs jejaring sosial, seperti Facebook, MySpace, YouTube, Flickr, Digg, Twitter, Linkedin, Eventful, BlackPlanet, Faithbase, Eons, Glee, MiGente, MyBatanga, DNC Partybuilder, dan AsianAve.

Pada 6 Juni 2008, pendukung Obama di Facebook baru 864.832 netter. Belum sampai dua minggu, pendukungnya sudah satu juta! Jumlah ini jauh di atas Hillary yang meraih 158.234 pendukung dan McCain yang meraih 146.439. Demikian pula di Twitter, pada 17 Juni pendukung Obama 998.901, yang apabila dihitung-hitung ada 135 pendukung baru setiap 20 menitnya.

Tak sekadar narsis

Blog sering dilecehkan sebagai media orang narsis, yakni orang- orang yang kelebihan hasrat menonjol-nonjolkan dirinya sendiri, orang yang senang memuji-muji kehebatannya sendiri. Karena narsisme ingin selalu dilihat dan bahkan dipuji orang, blogger terkena getah harus menanggung konotasi negatif.

Akan tetapi, kenyataannya, jumlah blogger terus membengkak. Technorati, situs penyurvei blog, menyebutkan, akhir Desember 2007 terdapat 112 juta blogger ”menyesaki” jagat maya internet ini. Seiring dengan berkembangnya jenis-jenis blog yang mengarah ke video blog (vlog), jumlahnya hingga sekarang boleh jadi sudah sampai 200 juta. Jika benar ada 1 miliar orang di dunia tersambung ke internet, artinya seperlima pengguna internet di jagat ini adalah blogger!

Penyedia blog gratisan, seperti WordPress, saat tulisan ini diturunkan sudah mencatat 3.458.488 pengguna. Dari jumlah itu, ada 143.266 posting atau konten yang diunggah (upload) setiap harinya. Padahal selain WordPress, ada juga puluhan situs penyedia web gratis. Sebut saja Blogspot, Blogsome, Blogdrive, Movable Type, LiveJournal, dan Dagdigdug. Situs terakhir adalah penyedia blog milik orang Indonesia.

Perang blog pernah terjadi saat pemilihan presiden Perancis beberapa waktu lalu antara Nicolas Sarkozy melawan saingan terkuatnya, Segolene Royal. Mulanya Royal, politisi perempuan, yang membuat blog. Tidak lama, Sarkozy membuat blog pribadi dan ”memelototi” blog-nya setiap ada kesempatan karena tak mau kalah dari Royal.

Dekati konstituen

Blog dan situs jejaring sosial seperti Facebook sebenarnya bisa mendongkrak popularitas politisi lokal menjadi politisi global. Contoh Perdana Menteri China Wen Jiabao. Di dunia nyata, namanya tidak dikenal. Orang mungkin lebih tahu Jet Lie atau Jackie Chan. Meski Wen Jiabao orang ”jadul”, tetapi ia tidak terlalu malu untuk menjadi salah seorang digital migrant dengan memajang dirinya di Facebook.

Berkat usahanya mengkapling ”ruangan” di Facebook, plus berkat kepedulian dan kehadiran Wen Jiabao mengunjungi korban gempa bumi Sichuan, popularitasnya sebagai politisi meningkat dengan menduduki 10 besar politisi dunia. Meski tidak sefantastis Obama di urutan pertama yang menggaet lebih dari 1 juta pendukung, Wen didukung 20.136 netter.

Di negeri sendiri, blog artis sinetron Sandra Dewi yang baru diluncurkan beberapa waktu lalu sudah menggaet lebih dari 8.000 anggota dengan ribuan pengunjung.

Sayangnya, blog tidak dimanfaatkan para politisi Indonesia, khususnya anggota DPR. Padahal, jika anggota DPR nge-blog, ia akan lebih dekat dengan konstituen, toh internet sudah sampai ke desa-desa. Belum pernah terdengar anggota DPR nge-blog seperti Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono. Sejumlah anggota DPR justru ramai dibicarakan di blog karena kena co- kok KPK. Beberapa anggota lainnya malah menjadi ”bintang” blog karena ketahuan berbuat mesum.

Akan tetapi, percayalah, masih banyak politisi dan anggota DPR yang baik dan berakhlak mulia, yang mungkin siap-siap nge-blog agar bisa berdekat-dekat dengan konstituen. Bukankah Pemilu 2009 sudah semakin mendekat?

Online Social Networking sebagai Salah Satu Media Kampanye 2009

June 20, 2008 - Leave a Response

Tahun 2009 segera tiba. Bagi Indonesia, tahun 2009 akan menjadi tahun yang penuh dengan agenda, khususnya agenda demokrasi. Setidaknya akan ada dua agenda besar pada tahun 2009, yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden-Wakil Presiden. Untuk Pemilu Legislatif sendiri, KPU sudah memutuskan bahwa waktu untuk melakukan kampanye Parpol sudah dimulai pada bulan Juli 2008 ini. Agenda-agenda seperti ini tak pelak akan membuat setiap partai politik dan Capres-Cawapres untuk melakukan kampanye dengan berbagai cara, tentunya dengan cara yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Dalam melakukan kampanye, mereka akan membutuhkan media. Media kampanye bisa bermacam-macam, mulai dari yang berjenis konvensional seperti dialog, arak-arakan di jalan, selebaran, stiker, buletin, dll, hingga yang memanfaatkan teknologi seperti memanfaatkan internet. Mengaca pada model kampanye yang dilakukan oleh Capres AS, Barack Obama, media internet akan menjadi media kampanye yang diperhitungkan. Apalagi sejalan dengan agenda Pemerintah RI, dalam hal ini Depkominfo, untuk menghubungkan setiap rumah dengan akses internet. Ditambah lagi dengan agenda untuk menurunkan biaya akses internet di Indonesia. Hal tersebut merupakan prospek besar untuk setiap Parpol dan Capres.

Follow up:

Di internet, perkembangan hari ini sudah mencapai pada Web 2.0, bahkan Web 3.0. Tapi saat ini baru Web 2.0 yang sudah implementatif. Dalam situs MASTEL (Masyarakat Telematika Indonesia) telah dikatakan bahwa Internet dan Web 2.0 diramalkan akan menjadi penentu kunci kemenangan Pemilu 2009. Dengan demikian, Parpol dan Capres di Indonesia sudah selayaknya memanfaatkan internet sebagai salah satu media kampanye.

Kembali kepada teknologi Web 2.0. Salah satu akibat dari perkembangan teknologi Web 2.0 adalah munculnya berbagai situs Online Social Networking (OSN). OSN atau juga disebut sebagai Social Network Service adalah sejenis perangkat lunak berbasis web yang memungkinkan pengguna internet saling berhubungan satu sama lain. Dengan OSN ini akan terbentuk komunitas-komunitas maya, bisa berdasarkan hobi tertentu, buku bacaan tertentu, wilayah domisili, agama, parpol pilihan, tokoh idola, dsb. Dengan OSN para pengguna bisa saling berbagi informasi dengan bentuk tulisan, gambar, suara (musik), bahkan video. OSN dan Web 2.0 juga memungkinkan keterhubungan antara profil mereka di OSN dengan Blog yang sudah dimiliki oleh pengguna internet. Beberapa contoh OSN antara lain Friendster.com, Facebook.com, Multiply.com, Orkut.com, Myspace.com, Hi5.com, dll. Dalam tulisan ini saya mencoba menelaah OSN mana yang paling cocok untuk dijadikan media kampanye online bagi Parpol dan Capres di Indonesia.

Berdasarkan Google Trends

Saya mencoba melihat OSN berdasarkan Google Trends (www.google.com/trends). Dalam hal ini saya hanya mencoba 5 OSN – karena keterbatasan Google Trends – yaitu Friendster.com, Facebook.com, Multiply.com, Orkut.com, dan Myspace.com. Dengan menggunakan kata kunci “Friendster, Facebook, Multiply, Orkut, Myspace” (tanpa tanda kutip ganda), saya mendapatkan grafik perkembangan tren kelima OSN tersebut di Google. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Secara keseluruhan, Facebook merupakan OSN yang paling menanjak tajam perkembangan tren nya, menohok Myspace yang sudah lebih dahulu tren sejak 2 tahun lalu. Tren kedua adalah Myspace. Tren ketiga dan seterusnya adalah Orkut, Friendster, dan Multiply. Yang tiga terakhir disebut, trennya jauh di bawah Facebook dan Myspace.

Tapi tren di atas adalah tren secara keseluruhan, maksudnya tren di dunia. Tren di dunia belum tentu tren di Indonesia. Oleh karena itu saya coba lihat lagi mana yang paling tren di Indonesia.

Tren di Indonesia

Jika dilihat dari lingkup Indonesia, urutan trennya adalah sebagai berikut:

Friendster menempati urutan pertama, jauh meninggalkan OSN lainnya. Multiply menempati urutan kedua. Sedangkan Facebook, Orkut, dan Myspace urutan di bawah. Yang menarik adalah Friendster yang betul-betul tren di Indonesia sejak 2004. Saya sendiri menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Friendster memang sudah “mendarah daging” di Indonesia. Di sebuah galeri internet yang dikunjungi pelajar SMP, bisa dikatakan semuanya membuka Friendster sebagai situs yang dikunjunginya. Melihat fenomena ini, pemilik Friendster sampai menyediakan Friendster berbahasa Indonesia. Berdasarkan Google Trends, Friendster banyak dikunjungi dari Jakarta, Sumatera Utara, Yogyakarta, Jateng, Jatim, dan Jabar.

Sedangkan Multiply mulai tren di Indonesia sejak 2007, tapi diawal 2008 mengalami penurunan. Multiply banyak dikunjungi dari Jakarta, Sumatera Utara, Yogyakarta, Jatim, Jabar, dan Bali. Facebook, Orkut, dan Myspace masih belum dapat perhatian dominan dari warga cyber di Indonesia. Ketiganya bisa dibilang masih sama-sama di bawah arus.

Di atas adalah tren dari pengguna internet. Namun jika dilihat dari tren pemberitaan, yang juga ada di Google Trends, Facebook dan Myspace merupakan 2 OSN yang paling banyak diberitakan media massa online. Media massa Online tentu menjadi bahan pertimbangan penting bagi Parpol dan Capres, karena pemberitaan di Media Massa Online juga bisa membuat tren baru.

Kesimpulan

Berdasarkan analisa sederhana di atas, saya coba simpulkan sebagai berikut:

1. Friendster masih merupakan OSN yang paling cocok untuk media kampanye di Indonesia jika dilihat dari tren.

2. Multiply menempati urutan kedua sebagai salah satu OSN yang patut diperhitungkan untuk sarana kampanye.

3. Facebook dan Myspace patut diperhitungkan, karena banyak diberitakan oleh media massa online ketimbang Friendster dan Multiply. Dan khusus untuk Facebook, jika berdasarkan tren tingkat internasional, Facebook layak diperhitungkan karena trennya mengalami peningkatan tajam, apalagi semenjak kampanye Capres Obama di Facebook.

4. Orkut masih belum bisa diharapkan sebagai salah satu media kampanye di Indonesia untuk sementara ini.

Saran

Ini baru sekedar analisa sederhana, hanya berdasarkan satu tools, yaitu Google Trends. Selain tren, barangkali perlu juga dilihat fungsionalitas dari OSN-OSN yang ada. Misalnya Multiply yang mungkin cocok untuk yang suka menulis dan membaca. Friendster yang mungkin cocok untuk yang sekedar mencari teman atau dukungan. Dan lain-lain. Untuk hal ini saya persilahkan yang lain menganalisanya.

Hambatan

Penggunaan OSN di atas bukan tanpa hambatan. Hambatan utama dalam hal ini adalah keterbatasan bandwidth dan masih relatif lambatnya akses internet di Indonesia. Situs-situs OSN tersebut adalah situs-situs yang cukup memakan banyak bandwidth karena jenis media yang digunakan beraneka ragam seperti video, musik, dan gambar. Selain itu semua OSN di atas secara fisik berlokasi di luar negeri, ini menambah kendala dalam hal bandwidth. Sebenarnya ada OSN dari dalam negeri namun belum begitu terkenal, antara lain temanster.com dan fupei.com. Bahkan ketika tulisan ini dipublikasikan, temanster.com tidak bisa dibuka karena sedang dalam maintenance.

Internet, Kunci Sukses Barack Obama

June 18, 2008 - Leave a Response

detik, 26 Mei 2008

Washington – Bakal calon presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama makin dekat menuju kursi presiden. Ia diprediksi bakal mengalahkan calon Partai Demokrat lainnya, Hillary Clinton untuk maju menghadapi kandidat Republik, John McCain.

Dikutip detikINET dari BBC, Senin (26/5/2008), media internet telah terbukti jadi salah satu kunci sukses kampanye Obama. Memang, kampanye internet adalah salah satu perangkat utama dunia perpolitikan di AS beberapa tahun belakangan.

Menurut praktisi internet Phil Noble, strategi yang jitu di dunia maya merupakan ‘jantung’ kampanye Obama. Bagi Obama yang sebelumnya kalah populer dibanding Hillary, internet mampu secara cepat menolongnya memobilisasi dukungan.

Noble memperkirakan, Obama bakal mampu meraih dana hingga USD 1 miliar secara online. Jumlah ini berkali lipat jika dibandingkan pendapatan online John Kerry, bakal calon presiden di kampanye tahun 2004.

Apalagi ketika Obama merilis kampanye, situs internetnya telah amat siap untuk merengkuh dukungan publik dan juga menggalang dana online. Tak mengherankan Obama akhirnya kini mampu menyalip Hillary, baik soal dana maupun popularitas.

Adapun menurut Michael Turk yang pernah jadi tim kampanye George W. Bush, kubu Demokrat telah belajar banyak dari pengalaman kampanye online sebelumnya.

Kampanye online Obama juga meraih sukses di situs jejaring semacam MySpace dan Facebook. Paul Zube, akademisi Michigan State University berpendapat, popularitas Obama di Facebook lebih tinggi daripada kandidat presiden lainnya, khususnya di kalangan muda.

Pilgub Jawa Barat 2008 dan Kampanye Via Web 2.0

June 18, 2008 - Leave a Response

Amril Taufik Gobel • April 4th, 2008

HIRUK PIKUK kampanye Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2008 mulai terasa di wilayah sekitar rumah tempat saya tinggal, perumahan Cikarang Baru Kota Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi. Kampanye yang dicanangkan sejak tanggal 28 Maret 2008-8 April 2008 ini sudah digelar. Pada tanggal 27 Maret 2008, 3 pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2008-2013 itu memaparkan visi, misi dan programnya dihadapan DPRD Jawa Barat. Ketiga pasangan calon tersebut masing-masing H. Danny Setiawan dan Mayjen TNI (Purn) Iwan R. Sulandjana (“DA’I”), memaparkan programnya melalui JABAR SUKSES 2013, yang Sejahtera, Unggul, Kondusif, Selaras dan Sauyunan. Sedangkan calon pasangan Agum Gumelar & Nu’man Abdul Hakim (“AMAN”), menyampaikan visi misi dan programnya dengan Mewujudkan Jawa Barat Bersatu untuk Ke Satu ( ngahiji jadi kahiji ) yang kesemuanya itu disampaikan DEMI JAWA  BARAT , sesuai dengan slogannya. Calon pasangan lain, H. Ahmad Heryawan – H. Dede Yusuf, (“ HADE “), menyampaikan visi misi dan programnya, dengan mewujudkan masyarakat Jawa Barat Mandiri, Dinamis dan Sejahtera, untuk HARAPAN BARU JAWA BARAT.

Berbagai macam spanduk, baliho dan poster dari ketiga pasangan calon tersebut terpampang mencolok mulai dari pinggir jalan hingga ke dalam kawasan perumahan. Meriah dan menggoda hati. Terlebih sejumlah slogan-slogan yang unik dan janji-janji bertebaran untuk para pemilih terlihat ramai pada setiap materi kampanye tersebut.

Sejauh ini saya melihat kampanye via dunia maya yang memanfaatkan teknologi internet di era Web 2.0 baru dilakukan oleh pasangan H.Ahmad Heryawan – H.Dede Yusuf lewat situs blog mereka di Hadepisan. Situs ini tidak cuma menayangkan berita-berita kegiatan kampanye pasangan HADE namun juga dukungan, komentar dan aspirasi masyarakat.

Sungguh ini sebuah langkah yang cerdas dan taktis, mirip langkah yang dilakukan oleh Barack Obama–calon presiden Amerika–dalam menjalankan strategi kampanyenya. Obama memaksimalkan semua potensi dashyat di dunia web 2.0 untuk mengangkat citranya mulai dari situs pribadi, blog , jejaring sosial di Facebook hingga video di You Tube. Video berupa tayangan Obama menyanyikan lagu “I got a Crush On..” secara lypsinc begitu populer di YouTube. Atau lihatlah bagaimana sang istri tercinta, Michelle, merekam setiap jejak kampanye Obama. Ia merekam di kamera web lalu mengunggahnya ke situs blog sang suami dan menayangkannya secara realtime disana. Tentu ini semua didukung pula oleh kemampuan berkomunikasi Obama yang begitu mumpuni dan santun.

Tak ayal apa yang dilakukan oleh Obama menjadi sebentuk viral marketing yang efektif menjaring pemilih. Jumlah “klik” di pada situsnya di dunia maya menjelma menjadi dukungan penuh untuk memilih calon presiden Amerika yang pernah bersekolah di Indonesia itu, didunia nyata. Tak hanya itu, “klik” didunia maya tersebut ter-”konversi” menjadi sumbangan ribuan dollar untuk kepentingan kampanyenya. Luar biasa!.

Dari tulisan Burhan Sholihin di rubrik khusus i-Tempo Koran Tempo hari ini (4/4) disebutkan, rival Obama, Hillary Clinton justru masih memanfaatkan teknologi web 1.0 yang terkesan ortodoks dan satu arah (dari penerbit ke pembaca), cerminan pribadinya yang efisien. Sangat berbeda dengan strategi kampanye Obama yang memanfaatkan teknologi web 2.0, sejak awal menyadari para pemilihnya adalah kaum belia dengan rentang usia 18-29 tahun dan terdiri dari beragam warna kulit. “Barack Obama adalah tiga hal yang paling anda idam-idamkan sebagai sebuah merek,” kata Keith Reinhard, Chairman Emeritus di DDB Worldwide sebagaimana saya kutip dari tulisan Burhan,”Dia Baru, Berbeda dan Menarik”. Dan Obamaniacs alias pendukung Obama kian terus bertambah dari waktu ke waktu.

Apakah strategi kampanye via web 2.0 yang diterapkan pasangan HADE untuk pilgub Jabar 2008 akan menuai hasil fantastis seperti Obama?. Mari kita lihat efektifitasnya. Menurut hemat saya, langkah HADE berkampanye dengan memanfaatkan web 2.0 di Indonesia merupakan sebuah langkah tangkas dan cerdas memanfaatkan celah ditengah semakin maraknya penggunaan internet di masyarakat Indonesia.

Saya masih menunggu, apakah pasangan DA’I dan AMAN akan melakukan langkah serupa. Dan saya juga masih menanti, apakah pasangan HADE juga akan ber-tebar-pesona-ria di Facebook, Youtube dan Friendster.

Urusan Pemilu, AS Percaya Internet

June 18, 2008 - Leave a Response

Kompas, 16 Juni 2008

NEW YORK, SENIN – Warga AS yang merasa tidak puas dengan potongan tayangan politik di berbagai media mulai mengalihkan perhatiannya untuk menangkap gambaran lebih luas di internet. Hasil beberapa studi terbaru menunjukkan hampir 30 persen orang dewasa di AS menggunakan internet atau membaca materi kampanye yang belum disaring – berupa debat, pengumuman serta transkrip pidato.

YouTube dan situs video lainnya menjadi situs yang lebih populer selama masa pemilihan pendahuluan di AS.  Tiga puluh lima persen orang dewasa menyaksikan tayangan politik online selama masa pemilihan tahun ini atau lebih ditinggi dibandingkan pemilihan pendahuluan pada tahun 2004 yang hanya mencapai 13 persen.

“Mereka ingin menyaksikan tayangan kampanye secara menyeluruh. Mereka ingin mengikuti pembacaan pidato dari awal hingga akhir,” kata Lee Rainie, direktur Pew Group yang mengeluarkan laporan studi itu. Hasil studi juga menunjukkan 10 persen orang dewasa menggunakan media online seperti Facebook dan Myspace untuk aktivitas politik seperti menemukan sahabat yang mempunyai kesamaan politik atau bergabung dengan sebuah kelompok politik online.

Internet juga memungkinkan tim kampanye dari kubu Demokrat dan Republik untuk pertama kali menggapai para pemberi dana tanpa mengeluarkan biaya seperti biaya untuk surat-menyurat dan telpon. Kubu kampanye Kandidat Presiden AS dari partai Demokrat Barack Obama telah memanfaatkan internet untuk mengumpulkan donasi dari sejumlah besar pemakai Internet.

Hasil studi Pew menunjukkan bahwa di kalangan pengunduh, pendukung Obama mencapai dua kali lebih banyak dari pendukung rivalnya Hillary Rodham Clinton dari partai Demokrat dan John McCain dari partai Republik. Empat puluh enam persen warga AS menggunakan Internet atau SMS untuk aktivitas politik. Namun demikian, mereka mempunyai pandangan yang beragam tentang fungsi internet di bidang politik.

Enam puluh persen pengguna internet khawatir terdapat penyebaran informasi yang keliru dan propaganda yang disebar luaskan secara online. Dan hanya 28 persen yang menyakini bahwa internet membantu mereka untuk terlibat secara pribadi memberikan dukungan kepada kandidat yang mereka pilih.

Studi ini diadakan melalui kontak telpon terhadap 2.251 orang dewasa, termasuk diantaranya 1.553 pengunduh, antara tanggal 8 April hingga 11 Mei. Studi tersebut mempunyai marjin  kesalahan plus atau minus 2 poin persentase.

Fenomena Obama dan Internet

June 18, 2008 - Leave a Response

Philips J Vermonte (Kompas, 12 Juni 2008)

Berakhirnya pemilihan pendahuluan untuk memilih calon presiden dari Partai Demokrat, posisi Barack Obama sebagai figur penting dalam politik di AS kian kokoh.

Banyak tulisan menggambarkan karisma Obama yang ditandai dengan kepiawaiannya berpidato sebagai sebab utama mengapa Obama tampil begitu fenomenal dalam kampanye pemilihan presiden AS kali ini.

Figur baru

Obama yang berkulit hitam dinilai sebagai figur inspirasional, menjadi ajang pembuktian American dream di mana tidak ada yang bisa membatasi mimpi seseorang. Obama menjadi orang kulit hitam pertama yang menjadi calon presiden AS.

Namun, diskusi yang dibatasi karisma atau kepiawaian berpidato akan mengaburkan pesan mendasar Obama, yaitu tentang munculnya sebuah ”politik baru” dalam lanskap politik di AS.

Obama adalah figur baru dalam politik AS. Namun, idealisme dan pengalamannya selama beberapa tahun menjadi community organizer di sudut miskin Chicago selepas lulus Universitas Harvard meyakinkan Obama bahwa politik harus bersifat bottom-up, bukan top-down. Keyakinan untuk mewujudkan politik bottom-up ini mewarnai cara Obama mengelola kampanyenya.

Majalah The Atlantic Monthly (Juni 2008) menurunkan laporan tentang mesin politik Obama. Kunci kesuksesan Obama adalah kemampuannya mengintegrasikan teknologi informasi ke dalam seluruh kampanyenya.

”Kampanye” paling awal Oba- ma adalah sebuah malam pengumpulan dana di Silicon Valley. Pengumpulan dana yang berlangsung sebelum Obama resmi mendeklarasikan diri menjadi calon presiden ini terbukti menjadi basis bagi mesin kampanyenya. Para entrepreneur teknologi di Silicon Valey, dari perusahaan kecil dan besar, bergabung dengan Obama dan membantu merancang kampanye pengumpulan dana melalui internet. Chris Hughes, pendiri situs Facebook—sebuah jaringan sosial berbasis internet paling populer di kalangan mahasiswa dan pelajar di AS— memutuskan cuti dari perusahaannya itu agar bisa bekerja full-time di markas besar tim kampanye Obama di Chicago.

Jaringan sosial berbasis internet itu selanjutnya menjadi tulang punggung penggalangan dana dan media bagi para relawan dalam tim kampanye Obama.

Berkat kecanggihan memanfaatkan jaringan internet, tim kampanye Obama menuai hasil spektakuler. Data terakhir menunjukkan, tim kampanye Obama memiliki 750.000 relawan aktif, 8.000 kelompok pendukung, dan tim ini mengorganisasi 30.000 events dalam 15 bulan kampanye pemilihan pendahuluan. Video-video rekaman pidato dan event-event yang dihadiri Obama bisa diakses gratis melalui podcast di iTunes store. Hasilnya, ratusan ribu orang bisa merasakan gemuruh pendukung Obama di tempat kampanye dan menangkap pesan kampanye melalui layar iPod masing-masing. Youtube, Facebook, iPod-podcast, dan My-space. Secara cerdas, internet dimanfaatkan Obama dengan efektivitas yang tak dapat ditandingi kandidat lain.

Dominasi internet

Donasi melalui internet adalah politik baru yang dibawa tim kampanye Obama. Tercatat, Obama menerima donasi dari 1,3 juta orang melalui internet. Kenyataan ini menghancurkan paradigma lama pengumpulan dana melalui lobbyist dan pebisnis besar. Obama lebih mengandalkan donasi berjumlah kecil dari massa pemilih yang berjumlah jutaan orang. Tim kampanye Obama melaporkan, 94 persen donasi yang mereka terima datang dari individu-individu yang menyumbang kurang dari 200 dollar AS.

Angka ini amat kontras bila dibandingkan dengan 26 persen yang dilaporkan Hillary Clinton dan 13 persen yang dilaporkan John McCain, calon presiden dari Partai Republik. Saat Hillary dan John McCain masih mengandalkan donor-donor besar, Obama mentranslasikan politik bottom- up yang dipelajari sebagai community organizer ke dalam pengumpulan dana kampanye menuju Gedung Putih.

Seperti ditulis The Atlantic Monthly, sejarah AS mencatat, transformasi cara berkomunikasi secara reguler mengubah wajah politik AS. Andrew Jackson membentuk Partai Demokrat saat teknologi printing mengalami kemajuan pesat pada awal tahun 1800-an. Andrew Jackson mengorganisasi editor dan penerbit untuk membentuk partai politik. Abraham Lincoln tampil menjadi tokoh legendaris setelah transkrip debat dalam kampanye presidennya yang terkenal disebarluaskan melalui koran-koran yang saat itu menjamur di AS.

Franklin Roosevelt memimpin AS melalui masa-masa sulit mengampanyekan program New Deal secara efektif melalui pesan regulernya di radio yang saat itu sedang disempurnakan. John Kennedy menjadi amat populer setelah debat antarcalon presiden dan pertama kali disiarkan televisi. Sejak itu, Kennedy cermat memanfaatkan televisi untuk memperkuat citranya.

Gairah baru

Hal terpenting lainnya, kampanye Obama membawa gairah baru bagi pemilih di AS. Bersama Hillary, berlomba untuk mencatat sejarah sebagai calon presiden wanita pertama di AS, tim kampanye Obama berhasil memobilisasi voter turnout dalam jumlah mengejutkan. Pemilihan presiden AS kali ini agaknya akan menjadi counter argument bagi ilmuwan politik Robert Putnam yang dalam bukunya, Bowling Alone (2001), mensinyalir, publik AS kian apatis secara politik, antara lain diindikasikan oleh penurunan secara drastis jumlah pemilih yang memanfaatkan hak pilihnya dari tahun ke tahun.

Philips J Vermonte Peneliti CSIS Jakarta; Kandidat Doktor Ilmu Politik di Northern Illinois University, AS